Petani Biarkan Sawahnya Bero


download 46.99 Kb.
jenengPetani Biarkan Sawahnya Bero
KoleksiDokumen
m.kabeh-ngerti.com > Astronomi > Dokumen
Nama : Faisal Pamardika

Kelas : X.B

No. Absen : 12

Petani Biarkan Sawahnya Bero

Siwi Nurbiajanti | Marcus Suprihadi | Selasa, 11 Oktober 2011 | 19:12 WIB

KOMPAS/SIWI NURBIAJANTI Di musim kemarau ini para petani di Brebes membiarkan sawahnya bero atau tidak ditanami.

1

BREBES, KOMPAS.com — Akibat kekeringan dan kesulitan mendapatkan air, ratusan hektar sawah di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, dibiarkan bero (tidak ditanami) pemiliknya. Sawah-sawah itu terutama berada di sepanjang wilayah pantura Brebes, yaitu di Kecamatan Tanjung, Bulakamba, Wanasari, dan Brebes, seperti terlihat Selasa (11/10/2011).

Di wilayah Limbangan Kulon, Kecamatan Brebes, misalnya, sawah-sawah tampak kering dan merekah. Sebagian besar sawah tidak ada tanamannya, kecuali rumput-rumput liar yang tumbuh tidak beraturan.

Daryo (75), petani di Desa Limbangan Kulon, mengaku sudah empat bulan terakhir membiarkan sawahnya bero. Ia yang ditemui sedang membersihkan rumput di sawahnya, memilih menunggu hujan tiba, karena saat ini sawah sama sekali tidak mendapatkan pengairan.

Menurut dia, petani tidak bisa memanfaatkan air dari sungai karena sungai di wilayah itu kering. Mereka juga tidak bisa memanfaatkan air sumur bor dengan menggunakan mesin pompa air karena air tanah asin akibat intrusi air laut, yang berjarak sekitar satu kilometer dari sawahnya.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Mekar Tani Desa Pagejugan, Kecamatan Brebes, Mashadi, mengatakan, saat ini para petani di wilayahnya juga membiarkan sawah mereka bero, daripada memaksakan diri tanam, "Sekitar tiga bulan terakhir sawah tidak ditanami," ujarnya.

Menurut dia, petani tidak berani memanfaatkan air sumur bor karena asin. Hal itu akibat adanya intrusi air laut yang berjarak sekitar dua hingga tiga kilometer dari areal sawah. Aliran air Sungai Pemali, yaitu sungai besar di wilayah Kecamatan Brebes, yang selama ini menjadi sumber pengairan bagi petani, juga asin.

"Karena tidak ada hujan, dari hulu tidak ada pasokan. Akibatnya, air laut pasang masuk ke sungai sehingga air sungai asin," ujarnya.

Apabila dipaksakan, tanaman yang terkena air asin akan mati atau tumbuh tidak optimal. Begitu pula sawah yang teraliri air asin, tingkat kesuburannya akan berkurang. Saat ini, kegiatan yang dilakukan petani adalah mempersiapkan olah tanam, seperti pembersihan gulma.

Sebagian petani yang memiliki modal memilih menyewa sawah dan bercocok tanam di wilayah lain, seperti Majalengka, Jawa Barat. Sementara petani yang tidak memiliki modal besar memilih menjadi buruh tani ke daerah lain (mengikuti petani pemilik modal) atau beralih profesi sementara sebagai tukang batu.

What : Para petani di Brebes membiarkan sawahnya bero atau tidak ditanami

Who : Para petani di Brebes

When : Selasa (11/10/2011)

Where : Desa Pagejugan, Kecamatan Brebes

Why : Karena tidak ada hujan, dari hulu tidak ada pasokan. Akibatnya, air laut

pasang masuk ke sungai sehingga air sungai asin.

How : Sebagian petani yang memiliki modal memilih menyewa sawah dan

bercocok tanam di wilayah lain, seperti majalengka, jawa barat. Sementara petani yang tidak memiliki modal besar memilih menjadi buruh tani ke daerah lain (mengikuti penati pemilik modal). Ata beralih profesi sementara sebagai tukang batu.

Nama : Amika. S
Banjir Bengawan Solo Mulai Masuk Ngawi

Antonius Ponco A | Minggu, 1 Februari 2009 | 15:31 WIB

1
KOMPAS/Adi Sucipto

Air Bengawan Solo terus meluap merendam sawah dan sebagian rumah warga. Sebagian warga Desa Sumbangtimun Kecamatan Trucuk bersiaga

NGAWI, MINGGU - Banjir akibat luapan Sungai Bengawan Solo dan Bengawan Madiun, anak Sungai Bengawan Solo, mulai masuk wilayah Kota Ngawi.

Di wilayah Kota Ngawi ada dua kelurahan yang tergenang oleh banjir akibat luapan Bengawan Solo dan Bengawan Madiun mulai Minggu (1/2) dinihari. Wilayah Mulyorejo, Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Ngawi dan wilayah Kampung Baru, Kelurahan Ketanggi, Kecamatan Ngawi.

Mulyorejo yang posisinya di pinggir Bengawan Solo terkena banjir akibat luapan sungai tersebut. Adapun Kampung Baru terkena banjir akibat luapan Sungai Bengawan Madiun. Tidak ada tanggul yang memisahkan antara sungai dan perumahan warga, sehingga setiap kali musim hujan, kedua wilayah ini selalu terendam banjir akibat luapan sungai .

Di Mulyorejo, terdapat sedikitnya 50 rumah yang terendam banjir. Sebagian warganya terpaksa mengungsi karena ketinggian banjir di rumah mereka lebih dari satu meter. Mereka mengungsi ke halaman rumah tetangganya yang belum kemasukan banjir.

Sementara di Kampung Baru, banjir setinggi 20 sentimeter sampai 150 sentimeter mengepung 68 rumah yang ada di sana. Menurut Lurah Ketanggi, Purnomo, w arga yang tinggal di sepuluh rumah terpaksa mengungsi ke halaman rumah tetangganya karena ketinggian air di rumah mereka lebih dari satu meter.

Baik di Mulyorejo ataupun di Kampung Baru, Pemerintah Kabupaten Ngawi menyiagakan masing-masing satu perahu untuk membantu evakuasi warga manakala ketinggian air terus meningkat. Selain itu, pemerintah memberikan beras, minuman kemasan, dan pengobatan gratis kepada korban banjir.

"Sayangnya pembagian bantuan ini tidak merata, sehingga masih ada warga yang belum menerima bantuan. Saat ini selain bantuan makanan atau minuman, warga mengharapkan bantuan obat-obatan karena korban banjir rentan terserang penyakit gatal, demam, atau diare," ujar Sadikun (61), warga Mulyorejo.

What : Banjir Bengawan Solo Mulai Masuk Ngawi

Who : Warga pinggir aliran benganwan solo Kabupaten Ngawi

When : Minggu (1/2) dinihari

Where : Wilayah Mulyorejo, Kelurahan Karang Tengah, Kecamatan Ngawi dan

wilayah Kampung Baru, Kelurahan Ketanggi, Kecamatan Ngawi.

Why : Karena Mulyorejo yang posisinya di pinggir Bengawan Solo terkena

banjir akibat luapan sungai tersebut. Adapun Kampung Baru terkena banjir akibat luapan Sungai Bengawan Madiun. Tidak ada tanggul yang memisahkan antara sungai dan perumahan warga, sehingga setiap kali musim hujan, kedua wilayah ini selalu terendam banjir akibat luapan sungai .

How : Baik di Mulyorejo ataupun di Kampung Baru, Pemerintah Kabupaten

Ngawi menyiagakan masing-masing satu perahu untuk membantu evakuasi warga manakala ketinggian air terus meningkat. Selain itu, pemerintah memberikan beras, minuman kemasan, dan pengobatan gratis kepada korban banjir.

Nama : Aprita. A. E. P
Longsor Timbun 35 Rumah di Ponorogo

|Ignatius Sawabi | Kamis, 16 September 2010 | 08:54 WIB

1

SURYA/sudarmawan Ilustrasi longsor

PONOROGO, KOMPAS.com - Sedikitnya 35 rumah di Dusun Pakel, Desa Mrayan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, rusak parah tertimpa tanah longsor yang terjadi Rabu (15/9) dini hari, namun tidak ada korban jiwa dalam musibah itu.

Salah seorang warga Dusun Pakel, Karmanto, Kamis di lokasi kejadian menjelaskan bahwa longsor terjadi karena hujan deras turun selama tiga hari berturut-turut.      "Sampai saat ini proses evakuasi dan pembersihan material longsor masih terus dilakukan warga," katanya yang memperkirakan kerugian materi mencapai ratusan juta.      

Camat Ngrayun, Nyuwito, saat dikonfirmasi mengenai bencana longsor di wilayahnya hanya membenarkan kejadian tersebut, namun menolak memberi keterangan lebih jauh soal dengan alasan masih berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat. Pemkab Ponorogo hingga Kamis pagi juga belum memberi penjelasan kepada wartawan terkait pendataan dampak kerusakan serta kerugian yang terjadi akibat tanah longsor tersebut.

Informasi awal hanya menyebut ada sekitar 35 rumah warga di Dusun Pakel yang terkena longsor. Berapa yang rusak parah, sedang, ataupun ringan, hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan resmi dari Badan Kesatuan, Kebangsaan, Politik, dan Lintas Masyarakat (Bakesbangpol Linmas) maupun dari satuan pelaksana penanggulangan bencana (Satlak PB) Ponorogo. "Beberapa pemukiman warga saat ini masih terisolir akibat putusnya sejumlah akses jalan terkena timbunan longsor," kata Katijan, warga lain menginformasikan.      

Menurut keterangan warga, longsor serupa sebenarnya sudah pernah terjadi di daerah tersebut beberapa tahun sebelumnya. Saat itu, kondisinya bahkan lebih parah dan menyebabkan seratus lebih warga terpaksa mengungsi. Namun kejadian yang menimpa kembali kawasan mereka sejak Rabu (15/9/2010) dini hari itu tak kalah mencekam lantaran hujan masih terus mengguyur sehingga risiko terjadi longsor susulan masih besar.      

"Kami sudah punya firasat buruk sejak awal karena hujan terus mengguyur kawasan ini selama tiga hari berturut-turut tanpa henti," kata warga lain menimpali.

What : Longsor Timbun 35 Rumah di Ponorogo

Who : 35 rumah di Kabupaten Ponorog

When : Rabu (15/9)

Where : Dusun Pakel, Desa Mrayan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo,

Jawa Timur

Why : Karena hujan terus mengguyur kawasan ini selama tiga hari berturut

turut tanpa henti

How : Warga yang rumahnya terkena longsor memilih untuk mengungsi, karena

hujan masih terus mengguyur takut apabila terjadi longsor susulan

Nama : Kandis. A. H
Enam Sekolah Terendam Lahar Dingin

Benny N Joewono | Senin, 10 Januari 2011 | 21:31 WIB

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Lokasi banjir lahar dingin Gunung Merapi luapan dari Kali Putih yang memutus Jalan Raya Magelang-Yogykarta dilihat dari ketinggian di Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Selasa (4/1/2010).

1

MAGELANG, KOMPAS.com — Sebanyak enam sekolah dasar dan taman kanak-kanak di Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, terendam pasir dan batu menyusul terjadinya banjir lahar dingin di Sungai Putih pada Minggu malam.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan Kecamatan Salam, Priyo Gani Waskito, di Magelang, Senin (10/1/2011), menyebutkan, sekolah yang terendam lahar dingin yakni SD Sirahan I dengan siswa 70 orang, SD Sirahan II (125 siswa), SD Seloboro I (156 siswa), TK Al-Husain, TK Petiwi, dan TK Seloboro sekitar 150 siswa.

Dari sejumlah sekolah tersebut, satu di antaranya, yakni bangunan TK Pertiwi Sirahan, hilang diterjang lahar dingin.

Menurut dia, dokumen dan fasilitas sekolah, seperti kursi, lemari, dan meja, masih selamat karena lahar tidak sampai masuk dalam kelas.

Pasir dan batu hanya merendam halaman dan lingkungan sekolah setinggi 1 hingga 2 meter, termasuk fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) juga terendam.

Lebih kurang 600 siswa di sekolah yang terendam pasir terpaksa diliburkan. Mereka akan diikutkan belajar di sekolah terdekat dengan pengungsian.

Untuk membersihkan lingkungan sekolah dari material, diperkirakan membutuhkan waktu satu minggu jika dibantu oleh warga.

Namun, belum tahu sampai kapan sekolah diliburkan mengingat banjir lahar masih mengancam.

Bagian belakang SD Sirahan II yang sebelumnya berupa sawah, kini menjadi alur banjir lahar. Jika terjadi banjir lahar susulan, hampir dipastikan akan menghantam bangunan sekolah.

Menyinggung persiapan ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) pada Maret mendatang, dia mengkhawatirkan prestasi UPT Kecamatan Salam akan menurun.

Pada tahun 2010, prestasi hasil UASBN UPT salam terbaik kedua se-Kabupaten Magelang.

"Kami khawatir prestasi anak turun karena persiapan terganggu dengan bencana erupsi dan banjir lahar dingin Merapi," katanya.

Guru Kelas I SD Sirahan II, Dwi Astuti, mengatakan, siswa terpaksa diliburkan hingga waktu yang belum ditentukan.

Semua siswanya berasal dari Sirahan yang rumahnya terendam pasir sehingga sekarang berada di pengungsian bersama keluarganya.

What : Enam Sekolah Terendam Lahar Dingin

Who : Enam sekolah dasar dan taman kanak-kanak di Kecamatan Salam,

Kabupaten Magelang, Jawa Tengah

When : Selasa (4/1/2010).

Where : Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah

Why : Karena Hujan yang lebat menyebabkan lahar dingin membanjiri wilayah

tersebut, akibatnya Enam sekolah dasar dan taman kanak-kanak di Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah

How : Lebih kurang 600 siswa di sekolah yang terendam pasir terpaksa

diliburkan. Mereka akan diikutkan belajar di sekolah terdekat dengan pengungsian.
Nama : Hanifa. D. R
Warga di Tegal Mulai Kesulitan Air Bersih


KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO

Minggu, 27 Juli 2008 | 19:22 WIB

TEGAL, MINGGU - Memasuki musim kemarau, ratusan warga di Kelurahan Kalinyamat Kulon, Kecamatan Margadana, Kota Tegal mulai mengalami kesulitan air bersih. Sebagian sumur mengering, sebagian lainnya masih mengeluarkan air, namun kualitasnya jelek. Untuk memasak, mencuci, dan mandi, warga terpaksa membeli air dari penjual keliling dan warga lain yang memiliki sumur artetis.     

Cayem (50), warga RT 2 RW 1, Kelurahan Kalinyamat Kulon, Kecamatan Margadana, Minggu (27/7) mengatakan, kesulitan air mulai terasa sejak tiga bulan lalu. Namun, semakin parah dalam dua pekan terakhir.

Sebagian sumur warga telah mengering, termasuk sumur miliknya. Sebagian lainnya masih mengeluarkan air, namun berwana kuning kemerah-merahan dan putih kental seperti santan. Air tersebut tidak dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Menurut dia, sebagian besar sumur yang dimiliki warga merupakan sumur dangkal dengan kedalaman enam hingga tujuh meter. Warga memanfaatkan air sumur hanya untuk mandi dan mencuci karena kualitasnya kurang bagus. "Air di sini agak kecut dan asin, semakin dikeruk lebih dalam, air yang dihasilkan semakin asin," ujarnya.

Untuk kebutuhan memasak, mereka membeli air dari PDAM yang dijual oleh pedagang keliling. Warga tidak dapat berlangganan air secara langsung dari PDAM karena saluran air ke wilayah tersebut tidak tersedia.

Cayem mengatakan, sejak sumurnya mengering, biaya untuk membeli air menjadi sangat besar. Selain untuk memasak, ia juga harus membeli air untuk mandi dan mencuci. Padahal, harga air dari pedagang keliling naik dari Rp 700 menjadi Rp 1.000 per jeriken.

Untuk menghemat biaya, ia tidak menggunakan air dari pedagang keliling untuk mandi dan mencuci. Cayem membeli air dari tetangganya yang memiliki sumur artetis, seharga Rp 500 per jeriken. "Dalam sehari, dibutuhkan sedikitnya dua jeriken air untuk minum dan enam jeriken air untuk mandi dan mencuci. Kalau begini, satu sumur bisa untuk banyak keluarga," tambahnya.

Wasi (57), warga RT 7 RW 2, Kelurahan Kalinyamat Kulon juga mengaku mengalami kesulitan air bersih. Hingga saat ini, sumurnya masih mengeluarkan air, namun terasa kecut dan berbau. Meskipun demikian, ia tetap memanfaatkannya untuk mandi dan mencuci.

Pasalnya, ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli air. Wasi hanya bekerja sebagai penjual makanan tradisional keliling. Padahal, ia harus menghidupi empat orang anak. "Kalau minum masih beli dari pedagang keliling, kalau untuk mandi ya terpaksa menggunakan air yang bacin," tuturnya.

Asmawi, tokoh masyarakat di Kelurahan Kalinyamat Kulon mengatakan, kesulitan air terjadi setiap tahun. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada upaya penyelesaian dari pemerintah. "Warga di sini susah, kalau kemarau selalu kesulitan air, kalau penghujan selalu kebanjiran," ujarnya.

Menurut dia, warga sangat berharap agar pemerintah segera menjadwalkan bantuan air bersih untuk mereka. Mereka juga berharap adanya bantuan pembuatan sumur artesis berukuran besar atau pembuatan saluran PDAM ke wilayah tersebut.
What : Warga di Tegal Mulai Kesulitan Air Bersih

Who : warga di tegal

When : Minggu, 27 Juli 2008 | 19:22 WIB

Where : Kelurahan Kalinyamat Kulon, Kecamatan Margadana, Kota Tegal

Why : Memasuki musim kemarau, ratusan warga di Kelurahan Kalinyamat

Kulon, Kecamatan Margadana, Kota Tegal mulai mengalami kesulitan air bersih. Sebagian sumur mengering, sebagian lainnya masih mengeluarkan air, namun kualitasnya jelek.

How : Untuk kebutuhan memasak, mereka membeli air dari PDAM yang dijual

oleh pedagang keliling. Warga tidak dapat berlangganan air secara langsung dari PDAM karena saluran air ke wilayah tersebut tidak tersedia.
Nama : Anita. M

Angin Kencang Landa Sleman

M Suprihadi | Kamis, 13 November 2008 | 17:41 WIB

1

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO

Bahaya kalau sampai menimpa mobil

YOGYAKARTA, KAMIS- Hujan deras disertai angin kencang di Dusun Mlati Beningan, Kelurahan Sendangadi, Kecamatan Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (13/11) siang merusak sejumlah atap rumah penduduk serta menumbangkan puluhan pohon.

Setidaknya satu rumah milik Suyanto rusak parah tertimpa pohon yang tumbang tepat pada bagian tengah rumah. Menurut keterangan anak pemilik rumah, Esti Listiarini, hujan deras disertai angin kencang menerjang pohon-pohon tinggi maupun atap rumah milik warga. 

"Kejadiannya sangat cepat, berawal dari hujan deras kemudian disusul angin kencang yang langsung menumbangkan sejumlah pohon dan menerbangkan atap rumah serta genteng," katanya.

Ia mengatakan, saat itu dirinya dikejutkan dengan angin kencang yang datang secara tiba-tiba. Satu pohon besar di dekat rumahnya roboh dan menimpa bagian depan rumah.

"Kejadiannya hanya sekitar 10 menit. Setelah sejumlah pohon tumbang, tiba-tiba ada satu pohon yang menimpa rumah kami," katanya.

Camat Mlati Sukarno di lokasi kejadian mengatakan, pihaknya belum dapat menghitung jumlah kerugian akibat kejadian tersebut. "Kami belum dapat menghitung kerugian, karena saat ini yang kami utamakan adalah membantu warga yang rumahnya rusak agar mereka tetap bisa berteduh," katanya.

Ia mengatakan pada awal musim hujan masyarakat hendaknya  waspada, karena angin kencang cukup potensial terjadi di wilayah Mlati. "Kami mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada, dan mulai memangkas dahan pohon besar untuk mengurangi risiko apabila pohon itu tumbang," katanya.
What : Angin Kencang Landa Sleman

Who : Atap rumah penduduk serta menumbangkan puluhan pohon

When : Kamis (13/11)

Where : Dusun Mlati Beningan, Kelurahan Sendangadi, Kecamatan Sleman, DI

Yogyakarta

Why : Hujan deras kemudian disusul angin kencang yang langsung

menumbangkan sejumlah pohon dan menerbangkan atap rumah serta genteng

How : Ia mengatakan pada awal musim hujan masyarakat hendaknya  waspada,

karena angin kencang cukup potensial terjadi di wilayah Mlati. "Kami mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada, dan mulai memangkas dahan pohon besar untuk mengurangi risiko apabila pohon itu tumbang

Nama : Alfian Amri
Samarinda Diterjang Banjir

Ambrosius Harto | A. Wisnubrata | Rabu, 5 Januari 2011 | 11:42 WIB

1

Kompas/Ambrosius Harto

Hujan deras dan drainase yang tidak berfungsi optimal menimbulkan banjir yang merendam kawasan Jalan Cendana di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (23/9) sore. Banjir juga merendam kawasan lainnya yakni Jalan Banggeris, Jalan Antasari, Jalan Juanda, dan kawasan simpang empat Vorvoo. Kompas/Ambrosius Harto

SAMARINDA, KOMPAS.com - Hujan deras sejak Rabu dini hari (5/1/2011) mengguyur Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Saluran air tidak mampu menampung hujan dan meluap sehingga merendam sebagian besar wilayah Kota Samarinda. Banjir berketinggian hingga satu meter merendam sejumlah ruas utama seperti Jalan Basuki Rachmat, Jalan Lambung Mangkurat, Jalan Dr Soetomo, Jalan Mayjen Sutoyo, dan Jalan A Yani. Banjir juga merendam kawasan pertemuan ruas-ruas utama tadi seperti simpang empat Air Putih, Air Hiitam, Vorvoo, Sempaja, dan Cendrawasih.

Banjir yang cukup tinggi itu membuat pengendara memutar memilih jalur lain agar kendaraan tidak terjebak dan atau tidak mogok. Pengendara sepeda motor yang nekad menerabas banjir tinggi seperti di Jalan Lambung Mangkurat terkena sial. Mereka terpaksa mendorong sepeda motor akibat mesin mati kemasukan air.

What : Samarinda Diterjang Banjir

Who : Pengendara sepeda motor dan warga

When : Rabu (23/9)

Where : Jalan Banggeris, Jalan Antasari, Jalan Juanda, dan kawasan simpang

empat Vorvoo, Sempaja, dan Cendrawasih Kota Samarinda, Kalimantan Timur

Why : Hujan deras dan drainase yang tidak berfungsi optimal sehingga

menimbulkan banjir

How : Banjir yang cukup tinggi itu membuat pengendara memutar memilih

jalur lain agar kendaraan tidak terjebak dan atau tidak mogok. Pengendara sepeda motor yang nekad menerabas banjir tinggi seperti di Jalan Lambung Mangkurat terkena sial. Mereka terpaksa mendorong sepeda motor akibat mesin mati kemasukan air.

Nama : Gandung. D. M
Gempa Bali Rusak Sejumlah Pura Peninggalan Prasejarah di Badung

R Adhi Kusumaputra | Sabtu, 19 September 2009 | 19:41 WIB

1

TPG Images

Pura Taman Ayun

BADUNG, KOMPAS.com  - Gempa bumi berskala 6,4 SR yang terjadi Sabtu (19/9) pagi pukul 07.06.58 Wita pada koordinat 9,67 lintang selatan  -115,49 bujur timur, mengakibatkan beberapa pura di Kabupaten Badung, Bali, mengalami kerusakan.

Kerusakan yang tergolong parah terjadi pada bangunan pura yang termasuk situs cagar budaya purbakala, yakni Pura Puru Sada di Desa Kapal, Kecamatan Mengwi.

Untuk memastikan kerusakan pura peninggalan zaman prasejarah itu, Bupati Badung AA Gede Agung didampingi anggota DPRD Badung IGN Wiadnyana, langsung melakukan peninjauan ke lokasi.

Akibat terjangan gempa, bagian bangunan pura yang mengalami kerusakan cukup parah, adalah menur candi di dalam areal pura.

"Kami berharap perbaikan dapat segera dilaksanakan karena upacara ’piodalan’ di pura ini sudah sangat dekat," papar Bendesa Adat Kapal AA Gede Darmayasa, di hadapan Bupati Gede Agung.

Menjawab keluhan tersebut, Bupati Gede Agung menyarakan adat setempat segera membuat proposal ke Pemkab Badung menyangkut besarnya biaya perbaikan yang dibutuhkan. "Pemkab Badung akan menanggung seluruh biaya perbaikan, namun pelaksanaan pembangunan dan upacaranya dilakukan oleh Desa Adat Kapal," ujar Gede Agung.

Bupati menegaskan, karena upacara "piodalan" sangat dekat, diperintahkan supaya desa adat mengambil langkah cepat dalam melaksanakan perbaikan.

Kerusakan yang hampir sama juga terjadi di Pura Lingga Buwana di kompleks perkantoran Pemkab Badung.

Gempa mengakibatkan runtuhnya "menur padmasana" dan rusaknya patung Naga Taksaka yang berada di pura tersebut. Selain itu kerusakan juga terjadi di Pura Padmasana di kompleks Pura Puja Mandala yang berada di kawasan Banjar Kampial, Nusa Dua.
What : Gempa Bali Rusak Sejumlah Pura Peninggalan Prasejarah di Badung

Who : Pura Peninggalan Prasejarah di Badung

When : Sabtu (19/9) pagi pukul 07.06.58 Wita

Where : Pada koordinat 9,67 lintang selatan  -115,49 bujur timur, di Kabupaten

Badung, Bali

Why : Gempa mengakibatkan runtuhnya "menur padmasana" dan rusaknya

patung Naga Taksaka yang berada di pura tersebut. Selain itu kerusakan juga terjadi di Pura Padmasana di kompleks Pura Puja Mandala yang berada di kawasan Banjar Kampial, Nusa Dua.

How : "Kami berharap perbaikan dapat segera dilaksanakan karena upacara

’piodalan’ di pura ini sudah sangat dekat," papar Bendesa Adat Kapal AA Gede Darmayasa, di hadapan Bupati Gede Agung. Menjawab keluhan tersebut, Bupati Gede Agung menyarakan adat setempat segera membuat proposal ke Pemkab Badung menyangkut besarnya biaya perbaikan yang dibutuhkan. "Pemkab Badung akan menanggung seluruh biaya perbaikan, namun pelaksanaan pembangunan dan upacaranya dilakukan oleh Desa Adat Kapal," ujar Gede Agung. Bupati menegaskan, karena upacara "piodalan" sangat dekat, diperintahkan supaya desa adat mengambil langkah cepat dalam melaksanakan perbaikan.

Nama : Kukuh. S
Puting Beliung Porak Porandakan UGM

Defri Werdiono | Jumat, 7 November 2008 | 16:49 WIB

1

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO

Warga membersihkan pohon yang tumbang menimpa kendaraan bermotor.

YOGYAKARTA, JUMAT — Angin puting beliung mengamuk di sekitar kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Akibatnya, sejumlah pohon ambruk dan menyebabkan atap sejumlah gedung porak poranda.

Sebagian pohon yang ambruk menimpa atap gedung. Sebuah pohon akasia menimpa atap Kantor Pos yang ada di lingkungan UGM. Gedung Gelanggang Mahasiswa di Jalan Kaliurang tidak hanya tertimpa sebuah pohon jati yang ambruk, tetapi atapnya juga rusak tersapu angin. Sebuah mobil yang diparkir di depan Kantor Pos UGM juga tertimpa pohon sehingga kacanya pecah.

Pohon-pohon yang bertumbangan juga merusaka atap dan menyebabkan sejumlah kaca gedung pecah. Gedung-gedung lainnya yang rusak, antara lain Wisma Kagama, Kopma UGM, Kantor Bank BNI 46, Kantor Bank Mandiri, Gedung Purna Budaya, dan Gedung PSKK.

Selain itu, sejumlah pohon besar yang bertumbangan juga menutupi jalan. Akibat hal tersebut, arus lalu lintas di sekitar UGM tersendat. Bunderan UGM, Jalan Kaliurang, dan Jalan Cik Di Tiro macet total serta sejumlah arus lalu lintas dialihkan.

Menurut sejumlah saksi, angin kencang yang menyertai hujan deras terjadi pada Jumat (7/11) sekitar pukul 14.45. Saat puting beliung mendera, mendung gelap berarak dari arah selatan ke utara dan balik lagi ke selatan.

Para pedagang kaki lima yang biasanya berdagang di bawah pohon sempat kocar-kocar. Hampir semua gerobak pedagang roboh akibat kuatnya angin. Sebagian pedagang dan orang yang tengah berlindung di bawah pohon terpaksa melarikan diri ke tempat yang lapang seperti di tengah Boulevard UGM.

Sisa amukan puting beliung dapat dilihat pula dari gerobak-gerobak pedagang yang berserakan di tepi jalan dan pecahan piring. Sejauh ini belum dilaporkan adanya korban jiwa.

What : Puting Beliung Porak Porandakan UGM

Who : Wisma Kagama, Kopma UGM, Kantor Bank BNI 46, Kantor Bank

Mandiri, Gedung Purna Budaya, dan Gedung PSKK.

When : Jumat (7/11) sekitar pukul 14.45

Where : Sekitar Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta

Why : Angin kencang yang menyertai hujan deras terjadi pada Jumat (7/11)

sekitar pukul 14.45. Saat puting beliung mendera, mendung gelap berarak dari arah selatan ke utara dan balik lagi ke selatan. Akibatnya sejumlah pohon ambruk dan menyebabkan atap sejumlah gedung porak poranda. Selain itu, sejumlah pohon besar yang bertumbangan juga menutupi jalan. Akibat hal tersebut, arus lalu lintas di sekitar UGM tersendat. Bunderan UGM, Jalan Kaliurang, dan Jalan Cik Di Tiro macet total serta sejumlah arus lalu lintas dialihkan.

How : Para pedagang kaki lima yang biasanya berdagang di bawah pohon

sempat kocar-kocar. Hampir semua gerobak pedagang roboh akibat kuatnya angin. Sebagian pedagang dan orang yang tengah berlindung di bawah pohon terpaksa melarikan diri ke tempat yang lapang seperti di tengah Boulevard UGM.

PENUTUP
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam ANALISIS FENOMENA ALAM ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan.

Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dusi memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya ANALISIS FENOMENA ALAM ini dan penulisan ANALISIS FENOMENA ALAM di kesempatan – kesempatan berikutnya.

Semoga ANALISIS FENOMENA ALAM ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang budiman pada umumnya.




Share ing jaringan sosial


Similar:

Buku serial: petani kimia

Budidaya buah melon (Cucumis melo L.) Berbentuk kubus guna meningkatkan...

Medicine


Nalika Nyalin materi nyedhiyani link © 2000-2017
kontak
m.kabeh-ngerti.com
.. Home