Keragaman suku bangsa dengan aneka tradisi dan budaya yang menjadi ciri khusus serta kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Kebudayaan Indonesia itu


download 105.21 Kb.
jenengKeragaman suku bangsa dengan aneka tradisi dan budaya yang menjadi ciri khusus serta kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Kebudayaan Indonesia itu
Kaca1/2
KoleksiDokumen
m.kabeh-ngerti.com > Astronomi > Dokumen
  1   2
TAKWIL GEMPA

Latar Belakang

Keragaman suku bangsa dengan aneka tradisi dan budaya yang menjadi ciri khusus serta kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Kebudayaan Indonesia itu dibangun dari berbagai budaya suku bangsa yang ada di nusantara yang diantaranya terekam melalui bangunan, arca, pakaian, atau sastra lisan dan tulisan pada  prasasti dan  manuskrip.

Butir-butir kebudayaan Indonesia masa pada lampau yang sampai kepada kita sebagai warisan kebudayaan para leluhur antara lain terdapat di dalam berbagai cerita rakyat yang masih diturunkan dari mulut ke mulut yang kini telah banyak direkam di dalam berbagai tulisan. Disamping itu, ada warisan budaya yang lain berupa naskah yang bermacam-macam bentuk ragamnya, yang tersebar di seluruh Indonesia dan yang ditulis dalam berbagai bahasa daerah dan huruf (Mulyadi, 1994: 1).

            Berkenaan dengan budaya tulis di Indonesia, awalnya menerima pengaruh dari India kira-kira berlangsung pada abad-abad pertama Masehi. Tahap ini menjadi titik tolak perkembangan tradisi tulis di Indonesia yang dikenal dengan huruf Pallawa. Selanjutnya, seiring dengan masuknya Islam di Indonesia dikenal aksara Arab, yang kemudian diikuti oleh aksara “Arab-Melayu” yaitu aksara Arab yang digunakan untuk menulis bahasa Melayu. Aksara terakhir muncul adalah aksara latin yang diwarnai dengan pengaruh yang datang dari bangsa-bangsa Eropa (Hardiati, 2002:2-3).

Tulisan tangan zaman dulu tersebut disebut dengan manuskrip yang sering juga disebut dengan naskah. Manuskrip terdiri dari kata  manu berasal dari  manus yang berarti tangan dan scriptusx berasal dari scribere yang berarti menulis (Mamat dalam Rujiati, 1994:3). Jadi manuskrip dapat diartikan peninggalan  berupa tulisan tangan manusia yang merekam hasil budaya intelektual orang dahulu.

Untuk menuliskan pemikiran, pengamatan, dan pengalaman masing-masing, orang-orang dahulu mengunakan alas naskah dari berbagai bahan tulis yang tersedia di daerah masing-masing, seperti dluwang, lontar, kulit, kertas , dan lain-lain.

Selain menggunakan bahan tulis yang berbeda, dengan perbedaan suku bangsa, manuskrip juga memiliki aksara dan bahasa yang berbeda pula. Keragaman, aksara, bahasa, dan pemikiran yang ada dalam manuskrip nusantara telah menarik para peneliti untuk mengkajinya terutama para filolog.

Kajian para filologi berusaha mengungkapkan hasil budaya suatu bangsa melalui kajian bahasa pada peninggalan dalam bentuk tulisan (Baried, 1985:3). Substansi dari naskah-naskah mengandung niliai sosial budaya dan pengetahuan yang sangat tinggi (Edi, 2000:viii).

Salah satu manuskrip -naskah- yang menarik untuk dikaji adalah naskah beraksara Arab Melayu dengan judul naskah Ramalan Tentang Gempa, Obat, Azimat (untuk selanjutnya ditulis RG). Naskah ini merupakan salah satu naskah keagamaan yang tersimpan di Perpustakaan Nasional RI. Sebenarnya seluruh teksnya perlu dikaji, tetapi dalam penelitian ini pembahasan hanya difokuskan kepada teks yang berisi tentang takwil gempa. Pembatasan ini disebabkan karena sepengetahuan penulis belum ada hasil kajian manuskrip yang membahas tentang gempa. Selain itu, gempa adalah peristiwa alam yang kejadiannya berulang sejak dulu sampai sekarang. Akhir-akhir ini rakyat Indonesia sering sekali digoncang gempa, seperti gempa  Aceh, Nias, Bengkulu, Padang, Jogya, dan terakhir gempa Dompu pada tanggal 27 November 2007.

Dengan kemajuan teknologi, para ahli gempa, berdasarkan pengetahauan dan didukung teknologi berupaya memperkirakan gempa dan kejadian yang disebabkan gempa. Namun tidak jarang perkiraan itu meleset, serta setiap terjadinya gempa yang dikuatirkan seakan-akan hanya akan terjadi tsunamai.

Secara kasat mata gempa mendatangkan ketakutan dan kerugian moril dan materil yang besar. Gempa Aceh yang disusul dengan naiknya gelombang laut ke daratan masih belum hilang dalam pikiran rakyat Indonesia. Sehingga pada daerah, terutama pesisir, yang merasakan gempa kecil atau besar tetap memberikan kepanikan bagi warga masyarakat.

Haruskah gempa selalu disikapi demikian atau gempa pada waktu tertentu memberikan hikmah atau pertanda kebaikan pada daerah yang digoncang gempa? Memang kemajuan peradaban dan teknologi telah menguak beberapa mitos menjadi realitas, namun bagaimana dengan ramalan gempa ini apakah sebuah mitos atau realitas?

Naskah RG, menginformasikan bahwa ternyata ulama zaman dahulu telah menuliskan hasil pemikirannya tentang gempa dan memperkiraan kejadian-kejadian pada suatu negeri setelah gempa terjadi. Sayangnya hasil pemikiran dan kearifan ini belum diketahui secara luas, sehingga pemikiran-pemikiran yang dikandung naskah tidak dapat difungsikan dan suatu saat akan hilang bersamaan dengan hilangnya fisik naskah.

Masalah

Masih banyak khazanah intelektual di Nusantara yang dikandung naskah belum dikaji oleh para filolog, terutama naskah keagamaan. Naskah RG adalah salah satu naskah keagamaan tentang ramalan gempa, dimana pesan-pesan yang dikandungnya belum banyak diketahui oleh generasi sekarang. Dengan demikian permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1.    Apakah pesan-pesan yang dikandung dalam naskah Ramalan Gempa?

2.    Tasawuf apakah yang  berperan dalam naskah Ramalan Gempa ?

Tujuan

1.    Menunjukan pesan-pesan yang dikandung dalam naskah RG tentang ramalan gempa.

2.    Menunjukan jenis tasawuf yang berperan dalam naskah Ramalan Gempa.

Manfaat

Penelitian ini diharapkan dapat menginformasikan kepada kepada masyarakat luas, terutama pihak yang terkait dengan gempa seperti Badan Metorologi dan Geofisika, tentang rekaman intelektual ulama  zaman dahulu mengenai ramalan gempa yang dikandung naskah RG.

 

LANDASAN TEORI

Tugas filolog sebagai penyunting adalah membuat teks dapat terbaca dan mudah dimengerti. Artinya filololog tidak hanya menyajikan suatu teks agar dapat terbaca oleh masyarakat tetapi juga menafsirkannya melalui suatu interpretasi sehingga teks itu mudah dipahami (Robson daalam Limbong, 2007: 8).

Naskah RG adalah naskah yang beisikan tentang ramalan gempa yang penuh dengan muatan sufistik. Ilmu tasawuf berbeda dengan ilmu-ilmu Islam lainnya karena penjelesan atau pemahaman tentangnya merupakan suatu hal yang paling sukar. Perbedaan dan kesukaran ini disebabkan karena tasawuf berhubungan erat dengan pengalaman kerohanian seorang sufi yang bersifat batiniah sehingga masing-masing sufi memiliki pengalaman yang berbeda.

Aliran tasawuf dapat dibedakan menjadi dua aliran; yaitu tasawuf akhlaqi dan tasawuf falsafi. Tasawuf akhlaqi lebih menekankan pada aspek pembinaan moral, yakni berupaya untuk mendidik jiwa agar senantiasa melakukan perbuatan-perbuatan terpuji dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tercela, oleh karena itu manusia melakukan pengembaraan spritual agar jiwanya menjadi suci. Adapun tasawuf falsafi lebih menekankan pada aspek persatuan antara manusia dengan Tuhan, yakni berupaya untuk membangun kesadaran bahwa dalam diri manusia terdapat unsur-unsur ketuhanan yang merupakan pancaran dari nur Illahi ( Qadir, 1966: 70)

Tasawuf falsafi lebih banyak membicarakan metafisika dan ketuhanan serta hubungan Tuhan dengan alam semesta termasuk manusia. Tasawuf falsafi memasukkan pandangan filosofis dari luar Islam, seperti dari India, Yunani, Persia, dan Kristen  ( Noer dalam Limbong, 2007:10).

Penelitian Terdahulu

Penelitian-penelitian keagamaan yang menjadikan naskah kuno sebagai objek kajian sudah banyak dilakukan. Untuk melacak studi-studi terdahulu  penulis telusuri melalui Direktori Naskah Nusantara (2000). Ada beberapa naskah keagamaan yang sudah dikaji, tetapi umumya teks yang bermuatan akidah, fikih, dan hikayat. Meskipun ada kajian tasawuf, tetapi belum ada yang mengkaji tentang takwil gempa.

Selanjutnya ditelusuri kajian-kajian yang memuat tentang ramalan dan primbon. (Rogert, 2007) Ilmu Firasat Bugis dan Tradisi Primbon mengungkapkan peramalan tentang hubungan bentuk fisik seseorang dengan realitas kehidupan, hari baik dan buruk, serta hubungannya dengan kehidupan seksual. (Ding, 2007) telah mengungkapkan jampi-jampi yang dipakai dalam pengobatan  pada Kitab Tibs MS 699 koleksi Perpustakaan Malaysia. Jadi meskipun ramalan dan primbon sudah dikaji, sependek penelusuran penulis belum ada kajian tentang ramalan gempa.

Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam penelitian ini dimulai dengan pendahuluan yang memuat fokus permasalahan, tujuan penelitian, dan landasan teori. Dalam iventarisasi naskah dilakukakan pencarian dalam beberapa katalog. Naskah yang sudah didapatkan didiskripsikan dan dibandingan. Ini berguna untuk memilih naskah yang akan dijadikan objek utama penelitian.

Berikutnya ditentukan metode yang dipilih untuk edisi teks, kemudian dilakukan transliterasi teks, terakhir kesimpulan berupa ringkasan isi dari naskah RG.

TINJAUAN NASKAH

Inventarisasi Naskah

Sesuai dengan langkah-langkah penelitian filologi bahwa untuk mengiventarisasi naskah bahan bantu pertama adalah merujuk kepada katolog yang ada. Ini bertujuan untuk mengetahui jumlah dan tempat penyimpanan naskah. Katalog pertama yang dipakai adalah Katalog Induk Naskah-naskah di Perpustakaan Nasional, berikutnya dilakukan pencarian melalui katalog lain, ternyata naskah Ramalan Gempa hanya ada dalam Katalog Induk milik Perpustakaan Nasional dengan kode ML.464, Rol 427.08. Namun demikian, ditemukan  satu naskah lain yang memuat teks yang sama pada masyarakat, yaitu koleksi Tuanku Kali Lubuk Ipuh di Nagari Kuraitaji, Pariaman, Sumatera Barat.

            Dalam sejarahnya, Pariaman, termasuk daerah kekuasaan Raja Malaka, di mana Raja Malaka mengangkat putranya Sultan Alaudin Syah sebagai penguasa di wilayah pelabuhan Pariaman. Disebutkan juga bahwa Pariaman termasuk wilayah Dinasti Fatimiah Mesir  yang membawa ajaran Syi’ah ke Minangkabau selama kurang lebih dua ratus tahun (1128-1339 M). Pada awal abad ke-19, sejumlah besar orang Syi’ah Minangkabau tewas dalam perang Paderi. Setelah tahun 1824 M mereka tinggal hanya sekelompok masyarakat kecil yang tinggal di daerah pesisir Minangkabau, khususnya di Pariaman ( Iqbal, 2006: 14).

         Di bagian peisisr Pariaman, nagari Ulakan, dimakamkan seorang penyebar agama Islam beraliran tarekat Satariyah bernama Syekh Burhanuddin yang meninggal tahun 1111 H. Naskah yang ada pada masyarakat ini disalin oleh salah seorang murid Syekh Burhanuddin yang bernama Syekh Abduraahman Lubuk Ipuh.

         Dalam Kataologus Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat Dep. P & K tahun 1972, dan dalam Katalog Naskah Kuno yang Bernafaskan Islam di Indonesia jilid I dan II terbitan Depag  RI Badan Penelitian dan Pengembangan Agama tahun 1997/1998 tidak ditemukan naskah yang sama.

Deskripsi Naskah

Naskah Ramalan Gempa.

Naskah ini berjudul Ramalan Tentang  Gempa, Obat, Doa, Azimat (RG), disimpan Perpustakaan Nasional RI dengan kode ML.464.

Cover luar dibuat dari karton tebal berwarna coklat, dengan variasi garis-garis putih.

Naskah berukuran 16,5 x 11,5cm dengan ukuran teks 12 x 7 cm. Jumlah kuras sebanyak 2 kuras, setiap kuras terdiri dari 10 lembar kertas yang memiliki 40 hlm. Penomoran halaman hanya terdapat pada halaman resto dengan menggunakan pensil, diduga penomoran ini ditulis kemudian oleh editor.

Jumlah baris tiap halaman sebanyak 15  baris kecuali pada halaman 21 berjumlah 16 baris,  halaman 36, 38, 40 sebanyak14 baris, dan  halaman 39  berjumlah 11 baris dengan  panjang baris rata-rata  7 cm.

Garis panduan yang digunakan untuk mengatur awal dan akhir baris tulisan adalah blind line yaitu garis cara mengatur baris tulisan tanpa menggoreskan langsung pada halaman naskah. Ada 4 garis chain-line pada setiap lembaran dengan jarak antara garis chain-line 3 cm, sementara laid -linenya tidak lagi terdeteksi.

Aksara yang digunakan adalah aksara Arab Melayu dengan menggunakan bahasa yang diperkirakan bahasa Minang karena ditemukan kata penyakit galang-galang[1]  dan pitulo[2] hutan pada baris ke 14 di halaman 37.

Tinta yang dipakai berwarna hitam dan merah. Warna merah digunakan untuk pengalihan antar bab.  Naskah menggunakan  kertas eropa sebagai alas naskah. Melalui penerawangan dapat dilihat bagian-bagian cap kertas watermark bergambar bulan sabit crescent yang menurut panduan watermark diperkirakan dicetak tahun 1791.

Tidak ditemukan iluminasi dan ilustrasi pada lembaran dan cover naskah. Namun rubrikasi ditemukan dengan tinta warna merah sebagai penekanan bagian dari perpindahan bab dan teks.

Tidak ditemukan dalam naskah ini penanggalan naskah dan kolofon, sehinga untuk melacak tempat penulisan, penulis dan penyalin tidak dapat dideteksi.

Dilihat dari kondisinya naskah ini termasuk naskah yang utuh, karena jilidan dan lembaranya masih lengkap, serta tulisan dapat terbaca dengan jelas. Hanya saja lembaran kuras pertama berlobang karena dimakan rayap pada bagian pinggir bawah, pada custode, dan atas kiri, namun kondisi ini tidak menghalangi pembacaan tulisan.

Dengan tidak adanya informasi pada kolofon, agak sulit dari mana asal naskah sebelum sampai di Perpustakaan Nasional RI. Tetapi melalui bandingan naskah yang ditemukan di Pariaman Sumatera Barat (TG) dari segi teks dan bahasa yang digunakan dalam TG, maka diperkirakan TG merupakan salinan dari naskah RG, degan demikian dianggap naskah RG berasal dari Sumatera Barat.

Naskah RG memuat beberapa teks sebagaimana berikut:

Halaman 1 sampai  halaman 10 baris ke 6 berisi ramalan tentang pekerjaan yang akan jadi atau berhasil dan pekerjaan tiada jadi atau gagal. Ramalan ini berdasarkan hitung-hitungan hari pertama pada awal bulan tiap tahun.

Halaman 10 baris ke 7 sampai halaman 25 baris ke 9 memuat tentang ramalan gempa. Ramalan gempa didasarkan kepada waktu kejadian gempa menurut bulan hijriah dengan batasan waktu siang, malam, subuh, duha, zuhur, asar, magrib, dan isya. Teks yang terdapat dalam halaman inilah yang menjadi fokus penelitian.

Halaman 26 baris ke 10 sampai halaman 38 baris ke 8 berisi tentang obat-obatan, mulai dari tata cara dan waktu pengambilan obat, cara meracik dan menggunakan obat.

Halaman 38 baris ke 9 sampai halaman 40 adalah bacaan doa.

Kutipan pada halaman pertama berbunyi: Bismilahirrahmanirrahim/ bab hal ini pada menyatakan pekerjaan jadi atau/ tiada jadi baik atau jahat lekas atau lambat/ maka hendaklah ia melihat pada hal ini atau menyata/ kan suatu pekerjaan maka ambil oleh kita barang...

Pada akhir naskah tertulis kutipan yang berbunyi: … ini azimat paperi maka disurat pula ku/lit hari mau atau pada kertas dipakai ini yang disurat/ ya qahar jalal ya satar jabar bi maliki al qud/us al salam al mukminu al muhaiminu al fazin al jayan.

Naskah TG.

Naskah TG berjudul Ar Risalah dengan ukuran 21 x 15 cm. Teks berukuran 16 x 13 cm. Cover naskah terbuat dari karton tebal, sedangkan kertas yang dipakai sebagai alas naskah adalah kertas lokal bergaris dengan cap gambar bintang obor pada cover luar.

Jumlah kuras sebanyak 5 kuras yang masing-masing kuras terdiri dari 20 lembar kertas dengan jumlah halaman sebanyak 193 halaman dimana tiap halaman memiliki 14 baris.

Aksara yang dipakai adalah aksara Arab Melayu dengan menggunakan bahasa Minang.

Tinta yang dipakai berwarna hitam dan merah, tinta merah digunakan pada bagian terpenting dari teks dan untuk menandakan perpindahan teks.

Kondisi naskah ini terawat dengan baik sehinga tulisannya dapat dibaca dengan jelas. Demikian juga kuras dan lembaran naskah masih utuh dalam jilidan, hanya pada akhir baris ke 9 – 11 terdapat bercak hitam.

Berdasarkan kolofon dapat diinformasikan bahwa naskah TG di tulis oleh Tuanku Kali Abdurrahman-khlaifah ke 5 Syekh Abdurrahman Lubuk Ipuh, kemudian disalin oleh Pakiah Yahuza.

Naskah TG memuat beberapa teks, secara ringkas dapat digambarkan bahwa naskah TG diawali dengan lafaz tobat, yaitu panduan bacaan yang harus dibaca ketika melakukan bimbingan terhadap orang yang bertobat atau masuk agama Islam.

Selanjutnya teks berisi tentang fikih thaharah yang dimulai dari jenis-jenis najis, tata cara mandi junub, cara berwudhuk dan rukun sembahyang yang.

Naskah TG juga memuat bidang aqidah, yang memuat tentang sifat 20, yaitu menerangkan sifat-sifat yang wajib, jaiz, dan yang mustahil bagi Allah.

Naskah memuat tentang fikih pernikahan, selanjutnya pada bagian akhir mulai pada halaman 176 sampai halaman 187 baris  ke 7 memuat tentang takwil gempa.

Naskah  TG adalah koleksi Tuanku Kali Abdu Rasyid Lubuk, nagari Kuraitaji, Padang Pariaman Sumatera Barat. Selesai ditulis pada hari Jumat pagi 17 hari bulan Sya’ban pada 1396 H bersetuju dengan 1976 M.

Perbandingan

Perbandingan naskah RG dan TG dilakukan untuk mencari naskah mana yang akan dijadikan objek kajian. Perbandingan meliputi usia naskah, kelengkapan isi, dan kata-kata yang lebih dahulu digunakan arkais.

Dari alas naskah yang digunakan naskah RG menggunakan kertas eropa dengan watermark gambar bulan sabit crescent diperkirakan dicetak tahun 1791 M. sementara naskah TG menggunakan alas naskah kertas lokal bergaris dengan tanggal selesai penyalinan tertera tahun 1976 M. Selain itu, meskipun teks kedua naskah ini dapat dibaca dengan jelas, namun tinta yang dipakai menunjukkan perbedaan usia naskah. Naskah RG menggunakan tinta yang mengandung zat besi dengan rastam[3] sebagai alat tulis, sedangkan naskah TG menggunakan tinta modern dengan menggunakan pulpen sebagai alat tulis.

Dari segi isi naskah RG dalam menyampaian informasi teks lebih lengkap dibanding naskah TG. RG memberikan ramalan kejadian waktu siang dan malam, kemudian diikuti dengan ramalan kejadian setelah gempa pada waktu subuh, duha, zuhur, asar, magrib dan isya. Sementara pada naskah TG hanya memberikan ramalan pada waktu subuh, duha. zuhur, asyar, magrib, dan isya, tidak menyebutkan ramalan gempa di siang dan malam hari.

Kata bau-bauan dalam RG ditulis dengan b a w b w a n, sedangkan dalam naskah TG kata bauan-baunan dituis dengan b a w ’ n – n n dilanjutkan dengan kata yang harum-harum. 

Dari informasi yang demikian terlihat bahwa naskah RG lebih layak dijadikan objek kajian.

Pemilihan Metode untuk Edisi

Metode yang dipilih dalam penelitian ini adalah metode landasan dengan penyuntingan teks menggunakan edisi kritik. Naskah yang dijadikan landasan adalah naskah ML 464 Ramalan Gempa (RG) yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Indonesia Jakarta.

Metode kritik yang dilakukan adalah berpedoman kepada metode kritik yang berdasarkan pada satu naskah dengan melakukan perbaikan-perbaikan pada bacaan teks. Sedangkan tambahan yang dianggap penulis mutlak diperlukan ditulis di luar teks (De Haan dalam Robson, 1994:23).

SUNTINGAN TEKS

Pertanggungjawaban Transleterasi

Agar teks dalam RG dapat dipahami oleh banyak kalangan, maka diadakanlah alih aksara Arab Melayu ke dalam aksara Latin, untuk perlu dijelasakan pedoman transliterasi  yang digunakan.

Pedoman transliterasi huruf

Pedoman dalam translitersi yang digunakan adalah merujuk kepada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Minangkabau  oleh Pusat Pembinaan dan Pengembagan Bahasa Jakarta tahun 1990. 

 

a

=

ا

 

n

=

ن

 

k

=

ك

 

z

=

ز

b

=

ب

 

o

=

او

 

l

=

ل

 

sy

=

ش

 c

=

ت

 

p

=

ف

 

m

=

م

 

kh

=

خ

d

=

د

 

q

=

ق

 

sh

=

ص

 

ng

=

ع

e

=

اي

 

r

=

ر

 

dh

=

ض

 

 

 

 

f

=

ف

 

s

=

س

 

 

g

=

ك

 

u

=

او

 

 

h

=

ح

 

v

=

ف

 

 

i

=

اي

 

w

=

و

 

 

j

=

ج

 

y

=

ي

 

 

                         

Beberapa huruf  yang sama tanpa diakritik bisa berbeda bunyi pada kontek yang berbeda, seperti huruf –huruf berikut:

Huruf (ك tanpa diakritik) bisa berbunyi  (g) atau (k).

Huruf (ف  tanpa diakritik) bisa berbunyi (f) atau (p).

Huruf (ج tanpa diakritik) bisa berbunyi (c) atau (j).

Huruf (و tanpa diakritik) bisa berbunyi (o), (u), dan (w).

Huruf (ف tanpa diakritik) bisa berbunyi (f) atau (p).

Bentuk-bentuk perbaikan bacaan

Bentuk perbaikan bacaan dalam transliterasi dalam penyuntingan teks ini adalah semata-mata menurut hemat penulis, sebagaimana berikut:

1.      <...> untuk menghilangkan kata atau huruf yang salah

2.      (...) untuk mengganti huruf atau kata

3.      [...] untuk menyatakan bagian yang tidak perlu dibaca

4.      {...} untuk menyatakan penambahan huruf atau kata.

5.      tanda titik tiga kali (...) untuk menyatakan bagian yang tidak tebaca.

6.      // untuk nomor halaman

7.      / untuk menyatakan akhir baris

8.      Angka menunjukan nomor urutan baris

9.      Tanda koma (,) digunakan untuk menyatakan pemisahan satuan pengertian atau jeda sementara.

10.  Tanda titik (.) digunakan untuk menyatakan akhir jeda.

11.  Tanda (-) digunakan untuk menggantikan angka dua (2).

12.  Huruf kapital digunakan disesuaikan dengan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.

Dalam pentransleterasian, sistem ejaan atau penulisan yang dipakai disesuaikan dengan sistem ejaan bahasa Minangkabau, yang termuat dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Minangkabau (1990), dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ini dilakukan dengan pertimbangan agar pembaca, terutama pembaca yang berasal dari Minangkabau (Sumatera Barat) dapat memahaminya dengan baik.

Model tampilan transleterasi mengikut kepada aturan baris pada naskah, hal ini berguna untuk memudahkan pengecekan kata atau kalimat pada halaman dan urutan baris tertentu.

Transliterasi

/10/

6 [...wa Allahu a’lam Tamat] bab ini pada menyatakan ta’bir/

7 gempa[4] dari pada kebaikan dan kejahatan, yakni gerak bumi/

8 pada [barang]  kehendak Allah ta’ala, bergerak/

9 [dari] karena adalah bumi itu dihantarkan Allah ta’ala di atas/

10 tangan seorang malaikat, dan malaikat itu berdiri/

11di atas tanduk lembu-lembu, [itu berdiri] di atas batu/

12 [itu] di atas ikan-ikan, di atas air-air, di atas/

13 kilat-kilat, di atas guruh-guruh [itu] di atas awan-awan,/

14 di atas kelam kelabat [dan] yaitu dari pada kudrat Allah/

/11/

1 ta’ala jua, Tuhan menjadikan seru alam sekalian/

2 dan ia jua yang menerangkan dan memerintahkan terang dari pada/

3 kelam dan disertakan kelam daripada terang, dan mengeluar/

4 kan hidup daripada mati dan mengeluarkan mati dari/

5 pada hidup.Dan barangkali Allah hendak menunjukkan/

6 qadhanya pada suatu negeri dititahkan Allah subhanahu/

7 wa ta’ala malaikat itu (meletakan) urat bumi sekalian/

8 maka bumipun bergerak dengan Allah ta’ala. Maka ba{ha}gialah/

9 kita ketahui dan kita lihat pada ta’birnya seperti/

10 sabda Nabi shalallahu ’alaihi wa salam.../

11dan akan ia zat Allah, artinya barangkali gerak suatu/

12 zat (apa) pun melainkan dengan zat Allah. Artinya/

13 [barangkali] bergerak {bumi} pada bulan Muharam [gempa] pada siang hari/

14 pertanda ada sedikit percintaan dalam tahun ini,/

15 tetapi segera waktu percintaan itu dalam tahun/

/12/

1 itu ju{g}a bermula. Jika malam gempa pertanda/

2 banyak orang sakit pada tahun itu, dan beras pad/

3 i pun mahal, [dan] segala manusia pun ..[ber/

4 mula] (jika) pada waktu subuh gempa pertanda akan berperang/

5 orang negeri itu pada tahun itu, [dan] jika pada waktu/

6 duha gempa pertanda beras padi mudah padanya, dan/

7 jika waktu zuhur gempa pertanda berperang negeri/

8 itu pada tahun itu. Jika waktu asar gempa pertanda/

9 berpindah {orang}dari suatu tempat kepada suatu tempat./

10 [dan] Jika waktu magrib gempa pertanda orang banyak/

11 mati berperang. [dan] Jika waktu isya gempa pertanda/

12 beroleh rahmat dan berkah dari pada Allah ta’ala akan/

13 raja dalam negeri itu [padanya] wallahu a’lam. Bab/

14 ini jika bulan Syafar gempa pada waktu siang hari ala/

/15/ mat segala manusia dalam negeri itu banyak pindah dari/

/13/

1 pada suatu tempat kepada suatu tempat, susah, sangat/

2 kesakitan. [dan] Jika pada malam gempa pertanda segala manusia/

3 beroleh rahmat dalam tahun itu. [dan] Jika waktu/

4 subuh gempa pertanda ibadah raja dalam negeri itu lagi/

5 beroleh berkat bumi itu. [dan] Jika waktu duha/

6 gempa pertanda akan berperang dalam negeri itu. [dan] Jika waktu zuhur/

7 gempa pertanda hantu tiga kepalanya atau satu kepalanya datang/

8 ke negeri itu binasa segala isi negeri. Ba{ha}gia kita berbuat/

9   baik dan memberi sedekah supaya lepas daripada bahaya/

10 itu. [dan] Jika waktu asar gempa pertanda orang banyak mati/

11 terbunuh hendak kita takut dan
(b)ersuci-
(b)ersuci diri kita,/

12 [dan] berbuat baik, [dan] berkata benar, [dan memakan maka/

13 nan halal, [dan] memberi sedekah dan berajarkan mudah/

14 mudahan diampunkan Allah ta’ala akan kita. [dan] Jika waktu/

15 magrib gempa pertanda angin keras atau bahaya siksa memakan*

/14/

1  Gempa pertanda lapar dan sampar[5] datang ke negeri itu. [dan]/

2  jika waktu asar gempa pertanda berkasih-kasihan segala/

3  isi negeri itu. [dan] Jika waktu magrib gempa pertanda/

4  berpindah dari suatu tempat kepada suatu tempat./

5  [dan] Jika waktu isya gempa pertanda akan bala datang dalam/

6  negeri itu, ba{ha}gialah tubuh, [dan] sembahyang dan memakai/

7  kain yang suci dan bau-bauan[6] supaya jauh bala/

8  itu wallahu a’lam. Bab ini jika {gempa} pada bulan Rabiul/

9  awal [gempa] pada siang, hari pertanda negeri itu sangat/

10 aniaya sakit… tiada di bumi. [dan]/

11 Jika malam gempa pertanda angin dan  hujan lagi dengan/

12 terlalu sangat, kerbau, lembu banyak mati dalam negeri itu./

13 [bermula] Jika pada waktu subuh gempa pertanda lapar isi/

14 negeri itu [padanya]. [dan] Jika waktu duha gempa/

15 pertanda beroleh dianugerahi Allah isi negeri rahmat/

/15/

1 dan selamat. Jika waktu zuhur gempa pertanda adat dan/

2 buah-buahan menjadi, atau orang jauh akan datang/

3 mengajar segala isi negeri. [dan] Jika pada waktu asar/

4 gempa pertanda orang dalam negeri berperang pada ta/

5 hun itu. [dan] Jika waktu magrib gempa pertanda (akan) datang/

6 warta yang keji haru biru pada negeri itu, tetapi/

7 beras pada mudah dan buah-buahan berkurang pada ta/

8 hun itu. [dan] Jika waktu Isya gempa pertanda tiada memberi/

9 kebaikan bagi engkau memberi sedekah. Bab ini pada/

10 bulan Rabiul Akhir gempa pada siang hari pertanda orang/

11 banyak mati dan {apa yang} mereka tuai pun banyak mati pada/

12 tahun itu. [dan] Jika pada malam gempa pertanda segala tana/

13 man menjadi dan beras pada murah ... pun sa/

14 ngat segala mata air pun sangat terbuka, dan segala/

15 pekerjaan besar banyak datang pada tahun itu. [dan] Jika/

/16/

1 waktu subuh gempa pertanda lapar dan sampar pada tahun/

2 itu. [dan] Jika waktu duha gempa pertanda beroleh adat/

3 dan rezki dan nugrahi Allah ta’ala akan isi/

4 negeri dan luput segala mara bahaya. [dan] Jika waktu/

5 zuhur gempa pertanda segala buah-buahan menjadi beras pada/

6 mudah…segala isi negeri dan jika wa/

7 ktu asar gempa pertanda musuh akan datang (bagi)/

8 kita pedihnya. [dan] Jika waktu magrib gempa pertanda beras/

9 pada murah dan buah-buahan tiada jadi dalam negeri/

10 itu akan memandang kejahatan pada tahun itu. [dan]/

11 jika waktu isya gempa pertanda beras pada murah dan/

12 orang dalam negeri itu berbuat baik. Bab pada/

13 Jumadil Awal gempa pada siang hari pertanda pada/

14 tahun itu rakyat bermusuh dan segala orang yang/

15 besar-besar dari antara itu ….[dan] jika/

/17/

1 Waktu malam gempa pertanda panas (terik) pada tahun itu./

2 [dan] Jika waktu subuh gempa pertanda beroleh kebaikan/

3 isi negeri itu… pada tahun {itu}. [dan] Jika wa/

4 ktu duha gempa pertanda berbuat dosa isi/

5 negeri itu, dan kena murka Allah pada tahun itu. [dan]/

6 Jika waktu zuhur gempa pertanda hantu tiga kepalanya atau/

7 satu kepalanya datang ke negeri itu binasa segala/

8 isi negeri ba{ha}gia kita berbuat baik dan memberi/

9 sedekah supaya lepas daripada bahaya itu. [dan]/

10 Jika waktu asar gempa pertanda orang banyak mati ter/

11 bunuh, hendak kita takut dan persucilah diri kita,/

12 [dan] berbuat baik, [dan] berkata benar, [dan] memakan/

13 makanan halal, [dan] memberi sedekah, dan berajarkan,/

14 mudah-mudahan diampuni Allah ta’ala akan kita. [dan]/

15 jika waktu magrib gempa pertanda angin keras atau bahaya/

/18/

1 tikus memakan perh (u)maan, dan segala hidupnya/

2 pun banyak mati karena bumi itu dikutuk Allah ta’ala./

3 Hendak mandi berlimau segala isi negeri itu dan/

4 minta {akan} Dia. Jika waktu Isya gempa pertanda jahat/

5 ju{g}a [pedihnya] pada tahun itu wallahu a’lam. Bab/

6 jika pada bulan Jumadil Akhir gempa pada siang hari pertanda/

7 beras padi murah, kerbau {dan}lembu berkurang karena keba/

8 nyakan kurus dan air pun kurang pada tahun {itu}./

9 jika waktu malam gempa pertanda orang muda-muda dalam negeri/

10 itu banyak mati dan sakit. [dan] Jika waktu subuh gempa/

11 pertanda isi negeri itu beroleh kesakitan. [dan] waktu/

12 duha gempa pertanda orang datang ke negeri itu raja-raja/

13 beroleh kemuliaan maha besar, dan buah-buahan menjadi dalam/

14 negeri  dalam tahun itu sebab adil raja. [dan] Jika waktu/

15 asar gempa pertanda buah-buahan menjadi sebab adil raja/

/19/

1 dalam negeri itu. [dan] Jika waktu magrib gempa haru/

2 hara akan fitnah muna
(f)ik itu. [dan] Jika waktu/

3 isya gempa pertanda akan orang dalam negeri/

4 itu berperang dan binatang banyak mati wallahu/

5 a’lam. Bab jika pada bulan Rajab gempa pada/

6 siang hari pertanda kesakitan orang dalam negeri/

7 itu sebab bahaya datang. Gajah, kuda, kerbau, lembu/

8 banyak mati pada tahun itu. [dan] Jika waktu/

9 malam gempa pertanda perang besar [lagi] antara dua pihak/

10 itu dan jika waktu subuh gempa pertanda isi negeri/

11 itu dan binatang pun banyak mati pada tahun/

12 dan jika waktu duha gempa pertanda air laut/

13 keras akan datang pada tahun {itu}. [dan] Jika waktu/

14 zuhur gempa pertanda berseterunya dan huru hara/

/15/ datang ke negeri itu. [dan] Jika waktu asar gempa/

/20/

1 pertanda jadi kaya lagi (sekejat)[7] isi negeri itu/

2 [dan] Jika waktu magrib gempa pertanda suatu akan da/

3 tang dari negeri itu dan dari negeri yang lain atau/

4 bermusuh-musuh. [dan] Jika waktu Isya gempa pertanda  (sekejat)/

5 dan kaya isi negeri itu wallahua’lam. Bab/

6 jika bulan sya’ban gempa pertanda pada siang hari orang/

7 banyak mati, [dan] buah-buahan pun berkurang, [dan] ber/

8 beras pada mahal, [dan] kanak-kanak yang umur tiga tahun/

9 dan tujuh tahun pun banyak mati. [dan] Jika pada/

10 malam gempa pertanda nikmat banyak dan beras padi murah/

11 dianugerahi Allah ta’ala. [dan] Jika waktu subuh/

12 gempa pertanda.... negeri itu orangpun banyak/

13 banyak mati lapar pada tahun itu. [dan] Jika waktu/

14 duha gempa pertanda berbuat dosa orang negeri/

15 itu akan datang murka Allah ta’ala pada tahun itu/

/21/

1 [dan] Jika waktu zuhur gempa pertanda makmur beras padi/

2 murah tanaman pun jadi dan segala hamba Allah berkasih-kasih/

3 an dalam negeri itu. [dan] Jika waktu asar gempa pertanda ba{ha}gia/

4 yang dahulu itu ju{g}a ... ju{g}a. [dan] waktu magrib gempa/

5 pertanda baik juga di atas negeri itu. [dan]/

6  jika waktu isya  pertanda itupun tiada baik/

7  wa Allahu ta’ala a’lam. Bab jika pada bulan Ramadhan/

8  gempa pertanda pada siang hari segala/

9  isi negeri itu mencabut senjata masing-masing berkeras/

10 keras segala manusia kemudian jadi seterunya./

11 [dan] Pada malam gempa pertanda isi negeri itu/

12 berpindah negeri yang lain. [dan] Jika waktu subuh/

13 gempa pertanda raja akan hilang negeri itu. [dan]/

14 juga waktu zuhur gempa pertanda beroleh kebajikan/

15 pada tahun itu. [dan] Jika waktu asar gempa/

16 pertanda banyak tiada …banyak penyakit/

/22/

1 akan datang pada negeri [dan] Jika waktu magrib gempa pertanda/

2 orang dari benua asing akan datang padanya. [dan] jika waktu/

3 isya gempa pertanda warta baik akan datang padanya[dan/

4 juga] ke negeri itu wa Allahu a’lam. Bab jika pada bulan Syawal/

5 gempa pertanda pada siang hari sial datang kepada/

6 hari isi negeri itu dan orang sakit pun .../

7 dan segala orang (berakal) berkata kepadanya  dari pada tempatnya/

8 [dan] Jika waktu malam gempa pertanda dari pada raja berperang besar/

9 dan adat yang dahulu biasalah dipakainya maka adat yang/

10 ba
  1   2

Share ing jaringan sosial


Similar:

Buku Memperingati Seabad Kebangkitan Nasional dan Seabad Kiprah Dokter...

Nama Ayah : dk (alm) Suku Bangsa : Sunda Agama : Islam Pekerjaan : Alamat : Identitas Ibu

Dalam sejarah, awal di temukannya pengobatan menggunakan herbal di...

Salah satu indikator kesehatan Indonesia suatu bangsa ialah derajat...

Pedoman Penatalaksanaan Klinik (ppk) mengenai penatalaksanaan penyakit...

Saraf otak adalah saraf perifer yang berpangkal pada otak dan batang...

Anak merupakan hal yang penting artinya bagi sebuah keluarga. Selain...

Indonesia merupakan negara agraris dengan hamparan lahan pertanian...

Tidak mudah bagi penderita gagal ginjal menjalani diet ketat serta...

Pertanian merupakan salah satu sumber pendapatan dan kesempatan kerja...

Medicine


Nalika Nyalin materi nyedhiyani link © 2000-2017
kontak
m.kabeh-ngerti.com
.. Home